WONDERFUL TANJUNGPINANG (CAGAR BUDAYA PULAU
PENYENGAT)
Baiklah, kali ini kami akan membahas salah satu
destinasi wisata yang ada di kota Tanjungpinang, yaitu Pulau Penyengat
(Penyengat Island).
Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti
dalam sebutan sumber – sumber sejarah adalah sebuah pulau bersejarah yang
berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Tanjungpinang, pusat pemerintahan Provinsi
Kepulauan Riau. Pulau ini dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit
dari Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau yang lebih
dikenal dengan sebutan pompong.
Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata di
Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang di
antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur,
makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks
Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Sejak tanggal 19 Oktober
1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan
ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.
Berikut akan kami paparkan hal – hal yang perlu
reader ketahui tentang Pulau Penyengat dari segi transportasi dan situs historinya.
Reader dapat melihat peta lokasi peninggalan sejarah
Pulau Penyengat yang terdapat di seberang jalan depan Mesjid Sultan Riau
Penyengat.
1.
Pompong
Untuk
sampai ke Pulau Penyengat, kita perlu menaiki alat transportasi yang satu ini,
yaitu pompong. Bukan alat transportasi yang besar memang dan hanya mampu
menampung kurang lebih 15 orang penumpang untuk sekali jalan. Waktu yang
dibutuhkan untuk sampai ke Pulau Penyengat dengan menggunakan pompong ini
relatif singkat, hanya kisaran 15 menit dari pelabuhan Tanjungpinang. Untuk
menaiki pompong ini, reader cukup mengeluarkan uang sekitar Rp.7000,- untuk
satu kali perjalanan (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
2.
Mesjid Raya Sultan Riau
Mesjid
ini awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada masa
pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, tahun 1832 masjid ini
direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Bangunan utama masjid ini
berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh 4 buah tiang beton. Di keempat sudut
bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan. Pada bangunan Mesjid
Sultan Riau terdpat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan
menara dan kubah di Mesjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan
jumlah rakaat salat wajib lima waktu sehari semalam.
Di
sisi kiri dan kanan bagian depan mesjid terdapat bangunan tambahan yang disebut
dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Menurut sejarahnya, mesjid ini dibangun
dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.
3.
Mushaf Al Quran
Terdapat
dua buah al-Quran tulisan tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan Riau
Pulau Penyengat. Salah satu yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil
goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang
dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam,
sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan "khat"
gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan
al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan "Ya
Busra" serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan
sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan
ilmunya.
4.
Istana Kantor
Istana
Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857),
atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman,
bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh
Raja Ali.
Istana
Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu
hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada
memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.
5.
Makam Raja Abdurrahman
Makam
Raja Abdurrahman terletak di sebuah bukit di belakang Masjid Raya Sultan Riau
Penyengat. Makam Raja Abdurrahman merupakan salah satu makam yang terdapat
dalam sebuah kompleks makam keluarga raja. Kompleks makam dikelilingi tembok
yang dihiasi dengan ukiran timbul, terutama di bagian pagar depan. Pada
tiap-tiap sudut pagar bagian atasnya terdapat pahatan seperti kendi. Pintu
masuk ke dalam kompleks terdapat di tengah. Bagian atas pintu membentuk
setengah lingkaran dengan dua buah daun pintu. Di atas lengkungan terdapat
hiasan seperti kelopak daun dan di atasnya terdapat kendi. Di kiri dan kanan
pintu terdapat sejenis tiang pelipit di bagian atas dan di atas pelipit
diletakkan kendi. Makam Raja Abdurrrahman terletak di sebelah kanan pintu
masuk. Jirat makam terdiri atas tiga tingkat, makin ke atas makain kecil. Jirat
polos dan di atasnya terdapat dua buah nisan berbentuk gada.
6.
Makam Raja Hamidah Engku Putri
Makam
Raja Hamidah (Engku Puteri) terletak di dalam bangunan cungkup terbuat dari
tembok yang memiliki kubah sepintas seperti bangunan masjid. Di bagian dalam
juga memiliki cekungan semacam mihrab. Pintu masuk berada di sisi barat laut.
Bangunan utama cungkup memiliki atap susun dua dan atapnya dari genteng warna hijau.
Makam Raja Hamidah (Engku Putri) berdampingan dengan makam Mariam, selir dari
Raja Mahmudsyah III. Nisan makam berbentuk gada dan jiratnya dari batu marmer.
Makam diberi selubung kain warna emas. Selain makam Raja Hamidah, di dalam
cungkup juga terdapat makam Raja Haji Abdullah Marhum Mursyid YDM Riau IX yang
berdampingan dengan Raja Aisyah (permaisuri). Sedangkan di bagian luar bangunan
cungkup terdapat makam Raja Ali Haji yang terkenal dengan "Gurindam
XII". Di samping makam Raja Ali terdapat pula makam Raja Ahmad, salah
seorang penasehat sultan.
7.
Balai Adat
Balai
Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau
Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang
terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan
perjamuan bagi orang-orang penting.
Di
dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan
adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan
untuk menjamu tamu-tamu tertentu.
Di
bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang sudah berusia 200
tahun lamanya dan sampai sekarang airnya masih dapat digunakan. Sumur ini tidak
pernah kering meskipun hanya dibangun dengan kedalaman 2,5 meter. Tak jarang wisatawan yang berkunjung menyempatkan diri meminum, menyuci wajah atau berwudhu di sumur ini.
8.
Bukit Kursi
Desain
bangunan benteng ini cukup menarik. Benteng pertahanan yang terletak di atas
bukit ini dibangun dalam bentuk parit-parit. Desain ini dibuat untuk
menghindari serangan musuh yang datang dalam jumlah besar serta memiliki
persenjataan yang lengkap. Di samping itu, parit-parit tersebut juga berfungsi
sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan meriam. Hingga saat
ini, parit-parit tersebut masih membentang di Benteng Bukit Kursi. Parit-parit
ini digali dengan kedalaman 1 m dan menghubungkan tiap-tiap lokasi meriam
berdiri. Tetapi kondisi parit-parit tersebut, sekarang ini kurang terawat dan
terkesan kumuh.

Di
atas Benteng Bukit Kursi ini, terdapat beberapa peninggalan meriam kuno.
Tetapi, jumlah meriam yang terdapat di bukit tersebut jauh berkurang dari
jumlah semula yang berjumlah sekitar 90 meriam. Sebagian meriam-meriam
tersebut, oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dijual ke Singapura dengan
harga yang cukup murah sebagai barang rongsokan. Sementara itu, sebagian
lainnya hilang karena kurangnya pemeliharaan dan perawatan dari pemerintah
daerah setempat.
Tak jauh dari Benteng Bukit Kursi, terdapat
sebuah bangunan yang pada zaman dahulu dipergunakan untuk menyimpan bubuk
mesiu. Oleh masyarakat setempat bangunan ini dinamakan Gedung Obat Bedil
(gudang mesiu). Keberadaan gudang mesiu ini erat kaitannya dengan Benteng Bukit
Kursi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk, gudang ini menjadi penyuplai mesiu
untuk senjata meriam guna menghalau musuh. Gedung Obat Bedil hingga sekarang
masih berdiri kokoh walau telah berusia cukup lama.
9.
Becak Motor
Di
Pulau Penyengat para wisatawan dapat menyewa jasa becak bermotor untuk mengelilingi
pulau tersebut. Para wisatawan tinggal duduk dan menunjukkan daerah tujuan
wisata kepada pengemudi yang sekaligus bertindak sebagai pemandu.