xiaomi

Sabtu, 02 April 2016

PESONA HISTORIKAL DAN CAGAR BUDAYA PULAU PENYENGAT INDERASAKTI

WONDERFUL TANJUNGPINANG (CAGAR BUDAYA PULAU PENYENGAT)

Baiklah, kali ini kami akan membahas salah satu destinasi wisata yang ada di kota Tanjungpinang, yaitu Pulau Penyengat (Penyengat Island).

Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber – sumber sejarah adalah sebuah pulau bersejarah yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Tanjungpinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit dari Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pompong.
Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang di antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Sejak tanggal 19 Oktober 1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

Berikut akan kami paparkan hal – hal yang perlu reader ketahui tentang Pulau Penyengat dari segi transportasi dan situs historinya.
Reader dapat melihat peta lokasi peninggalan sejarah Pulau Penyengat yang terdapat di seberang jalan depan Mesjid Sultan Riau Penyengat.

1. Pompong

Untuk sampai ke Pulau Penyengat, kita perlu menaiki alat transportasi yang satu ini, yaitu pompong. Bukan alat transportasi yang besar memang dan hanya mampu menampung kurang lebih 15 orang penumpang untuk sekali jalan. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pulau Penyengat dengan menggunakan pompong ini relatif singkat, hanya kisaran 15 menit dari pelabuhan Tanjungpinang. Untuk menaiki pompong ini, reader cukup mengeluarkan uang sekitar Rp.7000,- untuk satu kali perjalanan (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
2. Mesjid Raya Sultan Riau



Mesjid ini awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, tahun 1832 masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Bangunan utama masjid ini berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh 4 buah tiang beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan. Pada bangunan Mesjid Sultan Riau terdpat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah di Mesjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib lima waktu sehari semalam.

Di sisi kiri dan kanan bagian depan mesjid terdapat bangunan tambahan yang disebut dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Menurut sejarahnya, mesjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.
3. Mushaf Al Quran

Terdapat dua buah al-Quran tulisan tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat. Salah satu yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam, sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan "khat" gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan "Ya Busra" serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya.
4. Istana Kantor

Istana Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali.
Istana Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.
5. Makam Raja Abdurrahman

Makam Raja Abdurrahman terletak di sebuah bukit di belakang Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Makam Raja Abdurrahman merupakan salah satu makam yang terdapat dalam sebuah kompleks makam keluarga raja. Kompleks makam dikelilingi tembok yang dihiasi dengan ukiran timbul, terutama di bagian pagar depan. Pada tiap-tiap sudut pagar bagian atasnya terdapat pahatan seperti kendi. Pintu masuk ke dalam kompleks terdapat di tengah. Bagian atas pintu membentuk setengah lingkaran dengan dua buah daun pintu. Di atas lengkungan terdapat hiasan seperti kelopak daun dan di atasnya terdapat kendi. Di kiri dan kanan pintu terdapat sejenis tiang pelipit di bagian atas dan di atas pelipit diletakkan kendi. Makam Raja Abdurrrahman terletak di sebelah kanan pintu masuk. Jirat makam terdiri atas tiga tingkat, makin ke atas makain kecil. Jirat polos dan di atasnya terdapat dua buah nisan berbentuk gada.
6. Makam Raja Hamidah Engku Putri

Makam Raja Hamidah (Engku Puteri) terletak di dalam bangunan cungkup terbuat dari tembok yang memiliki kubah sepintas seperti bangunan masjid. Di bagian dalam juga memiliki cekungan semacam mihrab. Pintu masuk berada di sisi barat laut. Bangunan utama cungkup memiliki atap susun dua dan atapnya dari genteng warna hijau. Makam Raja Hamidah (Engku Putri) berdampingan dengan makam Mariam, selir dari Raja Mahmudsyah III. Nisan makam berbentuk gada dan jiratnya dari batu marmer. Makam diberi selubung kain warna emas. Selain makam Raja Hamidah, di dalam cungkup juga terdapat makam Raja Haji Abdullah Marhum Mursyid YDM Riau IX yang berdampingan dengan Raja Aisyah (permaisuri). Sedangkan di bagian luar bangunan cungkup terdapat makam Raja Ali Haji yang terkenal dengan "Gurindam XII". Di samping makam Raja Ali terdapat pula makam Raja Ahmad, salah seorang penasehat sultan.
7. Balai Adat



Balai Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.
Di dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu tertentu.


Di bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang sudah berusia 200 tahun lamanya dan sampai sekarang airnya masih dapat digunakan. Sumur ini tidak pernah kering meskipun hanya dibangun dengan kedalaman 2,5 meter. Tak jarang wisatawan yang berkunjung menyempatkan diri meminum, menyuci wajah atau berwudhu di sumur ini.
8. Bukit Kursi


Desain bangunan benteng ini cukup menarik. Benteng pertahanan yang terletak di atas bukit ini dibangun dalam bentuk parit-parit. Desain ini dibuat untuk menghindari serangan musuh yang datang dalam jumlah besar serta memiliki persenjataan yang lengkap. Di samping itu, parit-parit tersebut juga berfungsi sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan meriam. Hingga saat ini, parit-parit tersebut masih membentang di Benteng Bukit Kursi. Parit-parit ini digali dengan kedalaman 1 m dan menghubungkan tiap-tiap lokasi meriam berdiri. Tetapi kondisi parit-parit tersebut, sekarang ini kurang terawat dan terkesan kumuh.
Di atas Benteng Bukit Kursi ini, terdapat beberapa peninggalan meriam kuno. Tetapi, jumlah meriam yang terdapat di bukit tersebut jauh berkurang dari jumlah semula yang berjumlah sekitar 90 meriam. Sebagian meriam-meriam tersebut, oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dijual ke Singapura dengan harga yang cukup murah sebagai barang rongsokan. Sementara itu, sebagian lainnya hilang karena kurangnya pemeliharaan dan perawatan dari pemerintah daerah setempat.
 Tak jauh dari Benteng Bukit Kursi, terdapat sebuah bangunan yang pada zaman dahulu dipergunakan untuk menyimpan bubuk mesiu. Oleh masyarakat setempat bangunan ini dinamakan Gedung Obat Bedil (gudang mesiu). Keberadaan gudang mesiu ini erat kaitannya dengan Benteng Bukit Kursi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk, gudang ini menjadi penyuplai mesiu untuk senjata meriam guna menghalau musuh. Gedung Obat Bedil hingga sekarang masih berdiri kokoh walau telah berusia cukup lama.
9. Becak Motor

Di Pulau Penyengat para wisatawan dapat menyewa jasa becak bermotor untuk mengelilingi pulau tersebut. Para wisatawan tinggal duduk dan menunjukkan daerah tujuan wisata kepada pengemudi yang sekaligus bertindak sebagai pemandu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar